Etik dan Estetika dibalik Pertunjukan Wayang

Assalamu’alikum Wr. Wb.
Pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan refleksi tentang etik dan estetika dibalik pertunjukan wayang dengan. Saya bersama dua kawan saya Junianto & Mirza menonton pertunjukan wayang di Pendopo Museum Sonobudoyo pada tanggal 2 Desember 2017. Pertunjukan yang ditampilkan adalah episode ke 6 “Trigangga Looking for His Father”. Karakter yang muncul adalah Rahwana, Bukbisumkasura, Indrajit, Trigangga, Pulontani, Rama, Laksamana, Wibisana, dan Hanoman.
Adegan pertama terjadi di Kerajaan Alengka yang merupakan kerajaannya Rahwana. Pada adegan pertama ini menceritakan tentang kisah Bukbismukasura bersama Trigangga memohon kepada rahwana agar mengizinkannya bertarung melwan Rama. Trigangga yang mana sedang mencari ayahnya sebenarnya adalah anak dari Hanoman. Namun dia Telah dimanfaatkan atau ditipu oleh Bukbis yang menyatakan bahwa Trigangga adalah anak dari Rahwana. Dengan melakukan hal ini, Bukbis berharap agar Trigangga mau diajak untuk membunuh Rahwana.
Kemudian Adegan kedua terjadi di kerajaan Pancawati yang merupakan kerajaan dari Rama. Rama, Laksamana, dan Wibisana sedang membicarakan tentang apa yang akan dilakukan jika ada hal yang tidak diharapkan terjadi. Wibisana menyarankan kepada Rama dan Laksamana agar bersembunyi di persembunyian dan Hanoman melindungi persembunyian tersebut. Suatu ketika Hanoman sedang lengah, Trigangga datang kemudian menculik Rama dan Laksamana. Kemudian diketahuilah oleh Hanoman, sehingga terjadi pertarungan antara Hanoman dan Trigangga. Kemudian muncullah Bathara Narada menghentikan pertarungan antara keduanya dan memberitahukan bahwa mereka berdua adalah ayah dan anak. Akhirnya pertarungan pun selesai dan Trigangga menmukan ayahnya.
Banyak lakon yang mengandung nilai etika atau moral, seperti lakon Hanoman tentang kesetiaan seseorang, lakon Trigangga tentang berbakti kepada ayahnya walaupun di awal malah bertarung dengan ayahnya sendiri yang disebabkan karena ditipu oleh Bukbismukasura. Nilai etika itu juga terdapat pada figur Wibisana yang bijaksana, dll.
Sementara nilai estetika pada pagelaran jaga tidak kalah banyaknya. Dari musik pengiringnya, ketika suasana tenang tempo musiknya perlahan dan tenang. Ketika suasana yang tegang dalam pertarungan, tempo musik pengiringnya menjadi cepat dan sangat tegang. Nilai estetik lain dari Pertunjukan wayang adalah bentuk-bentuk dari lakonnya memiliki karakter yang unik dan berbeda beda. Dan memiliki nilai seni yang tinggi yang merupakan warisan budaya luhur nan agung.

Itulah nilai etik dan estetik dalam pertunjukan wayang yang saya ambil dari kisah Trigangga dalam mencari ayahnya. Tentunya Masih banyak nilai etik dan estetika dibalik pertunjukan wayang yang belum tersampaikan dalam tulisan ini. 

Komentar