Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Wadah dan Isi

Abstraksinya titik adalah wadah dan isi. Sebenarnya titik itu sudah hasil abstrak. Sehingga bisa menjadi wadah dan isi. Titik itu benda pikir. Karena abstraksi maka tidak punya tebal. Titik hasil dari pensil/bolpen. Yang kita tulis di papan tulis itu merupakan bayangan dari titik. Tetapi titik yang sebenarnya itu objek pikir yang tidak punya tebal. Tetapi dia punya sifat. Ternyata meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena kita bisa membuat titik A dan titik B kemudian dibuat garis. Menjadi garis AB. Kalau sudah seperti itu ada garis AB yang melalui 2 buah titik yang berbeda, nah itu adalah ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu yang bisa kita merasakan dan pahami itu di sini dan di sana. Artinya ciri-ciri ruang bisa dipukul, diraba, dirasa, dkk itu adalah ruang. Meja yang kemarin itu waktu. Padahal kita berbicara titik. Titik di gambar itu adalah titik yang bayangan, yang konkret, yang di bumi. Padahal titik itu yang kita pikirkan. Itulah sulitnya belajar filsafat bagi anak m...

Etik dan Estetika dibalik Pertunjukan Wayang

Assalamu’alikum Wr. Wb. Pada kesempatan kali ini saya ingin menuliskan refleksi tentang etik dan estetika dibalik pertunjukan wayang dengan. Saya bersama dua kawan saya Junianto & Mirza menonton pertunjukan wayang di Pendopo Museum Sonobudoyo pada tanggal 2 Desember 2017. Pertunjukan yang ditampilkan adalah episode ke 6 “Trigangga Looking for His Father”. Karakter yang muncul adalah Rahwana, Bukbisumkasura, Indrajit, Trigangga, Pulontani, Rama, Laksamana, Wibisana, dan Hanoman. Adegan pertama terjadi di Kerajaan Alengka yang merupakan kerajaannya Rahwana. Pada adegan pertama ini menceritakan tentang kisah Bukbismukasura bersama Trigangga memohon kepada rahwana agar mengizinkannya bertarung melwan Rama. Trigangga yang mana sedang mencari ayahnya sebenarnya adalah anak dari Hanoman. Namun dia Telah dimanfaatkan atau ditipu oleh Bukbis yang menyatakan bahwa Trigangga adalah anak dari Rahwana. Dengan melakukan hal ini, Bukbis berharap agar Trigangga mau diajak untuk membunuh Rahwa...

Tokoh dalam Filsafat

Setiap paham filsafat memiliki tokohnya masing-masing. Berikut tokoh-tokoh yang telah dibahas dalam perkuliahan. Tokoh dari filsafatnya asmara, romantis, dan cinta adalah Sigmund Freud. Tokoh dari filsafatnya batu, lumpur adalah Karl Max. Tokoh dari filsafatnya politik dan kekuasaan adalah Machiavelli. Tokoh dari filsafatnya filsafatnya industri adalah Adam Smith. Tokoh dari filsafatnya Capital, pelit adalah William John. Tokoh dari filsafatnya salah adalah Imre Lacatos. Tokoh dari filsafatnya bertanya dan dialek adalah Socrates. Tokoh dari filsafatnya sejarah, abstraksi, idealisasi adalah Edmund Husserl. Tokoh dari filsafatnya idealis adalah Plato. Tokoh dari filsafatnya tetap adalah Permenides. Tokoh dari filsafatnya dari Berubah adalah Heraklietos. Tokoh dari filsafatnya transenden, analitik dan sintetik dalah Immanuel Kant. Tokoh dari filsafatnya pengalaman adalah Hume. Tokoh dari filsafatnya Kosong adalah Arthur Schopenhauer. 

Ungkapan Filsafat

Pertanyaan kapan maka jawabnya adalah belum tentu ketika Ketika kamu datang. Belum dimulai. Jadi kapan dimulai? Belum tentu ketika kamu datang. Bagaimana itu mengada. Mengapa? Itu terpilih. Untuk apa itu pengada. Siapa itu ungkapan filsafatnya adalah Subjek/objek. Objek itu dipilih sementara subjeknya yang memilih. Hermeneutika itu kalau dalam bahasa jawa adalah cokro manggilingan. Hidup itu bergerak maju dan berputar-putar. Saling menerjemahkan. Yang diterjemahkan itu yang ada dan yang mungkin ada. Dimana? Belum tentu di sini. Ke mana? Ke perbatasan. Adanya ilmu itu karena ada perbatasan. Dengan siapa itu dengan sifat. Karena setiap suatu hal memiliki sifat. Pertanyaan Berapa menunjukkan kuantitas.Kadang kita dimanjakan. Karena toleransi ruang dan waktu itu besar. Kalau di Jepang terlambat panen seminggu saja tidak boleh, karena tidak bisa panen. Maka perhitungannya harus tepat. Kalau di Indonesia terlalu di manja maka jadi kurang baik. Pertanyaan apa kabar merupakan fondamen ala...

Narasi Kehidupan Dunia

Gambar
Dalam perkuliahan ke 4 digambarkan tentang timeline kehidupan. Timeline khidupan ini diberi nama Narasi Besar Dunia. Narasi bersar dunia ini diawali dari awal jaman, yaitu segala sesuatu bernilai jika ada materi. Pada awal jaman cara berpikir manusia adalah bagaimana cara mengungkapkan fenomena berkaitan tentang sesuatu terbuat dari apa. Misalkan terdapat pertanyaan bumi itu terbuat dari apa, planet dari apa, dll. Setelah materi, beranjak ke metafisik dan spiritual. Selain itu dipaparkan juga tentang plularisme, monoisme, prinsip, rasionalisme, idealis, relais, capital, feudal, sintesis, anti tesis, dan masih banyak lagi. Time line tersebut berawal dari jaman yunani kuno. Monoisme merupakan identitas, plularisme merupakan kontradiksi. Monoisme merupakan identitas kemudian dinaikkan lagi sampai menjadi kuasa tuhan. Hidup itu ketika dipikirkan, ketika dinaikkan akan mencapai ranah spirirual dan ketika diturunkan akan mencapai ranah kenyataan. Kita perlu memikirkan tindakan, meng...

Pengantar Perkuliahan Filsafat

Paradigma dari filsafat ilmu adalah konstruktivisme atau membangun. Membangun dunia, akhirat, hidup, kepercayaan, kesehatan, membangun rumus, membangun teori, membangun paradigma. Maka membangun yang paling bermakna adalah membangun untuk dirinya sendiri bukan dibangunkan. Sehingga paradigma itu membangun atau konstruk tetapi bukan dalam konteks memberi, seperti seorang guru/dosen yang sedang mengajar bukan berarti sedang memberi ilmu, tetapi memfasilitasi mahasiswa agar bisa membangun, khususnya membangun ilmu. Karena filsafat adalah konstruksi jadi masing-masing mahasiswa senantiasa mencari, sehingga nanti output yang muncul akan berbeda-beda. Membangun dikaitkan dengan paradigma hakikat subyek belajar. Bagaimana seorang mahasiswa mampu membangun filsafatnya. Ilmu muncul karena diawali dengan bertanya, sehingga apabila tidak ada pertanyaan maka tidak ada ilmu. Selama ilmu tersebut masih dipikirkan maka hal tersebut adalah masalah dunia. Ilmu akhirat sudah tidak dipikirkan lagi, me...