Wadah dan Isi


Abstraksinya titik adalah wadah dan isi. Sebenarnya titik itu sudah hasil abstrak. Sehingga bisa menjadi wadah dan isi. Titik itu benda pikir. Karena abstraksi maka tidak punya tebal. Titik hasil dari pensil/bolpen. Yang kita tulis di papan tulis itu merupakan bayangan dari titik. Tetapi titik yang sebenarnya itu objek pikir yang tidak punya tebal. Tetapi dia punya sifat. Ternyata meliputi yang ada dan yang mungkin ada. Karena kita bisa membuat titik A dan titik B kemudian dibuat garis. Menjadi garis AB. Kalau sudah seperti itu ada garis AB yang melalui 2 buah titik yang berbeda, nah itu adalah ruang dan waktu. Padahal ruang dan waktu yang bisa kita merasakan dan pahami itu di sini dan di sana. Artinya ciri-ciri ruang bisa dipukul, diraba, dirasa, dkk itu adalah ruang. Meja yang kemarin itu waktu. Padahal kita berbicara titik. Titik di gambar itu adalah titik yang bayangan, yang konkret, yang di bumi. Padahal titik itu yang kita pikirkan. Itulah sulitnya belajar filsafat bagi anak muda, anak kecil. Apalagi di matematika diketahui 2 buah titik A dan B, itu artinya di tempat yang bebas ruang dan waktu secara universal dimasuki unsur ruang dan waktu.
Yang selama ini kita rasakan adalah ruang dan waktu. Kita terikat di bumi oleh ruang dan waktu. Padahal pada fase berikutnya kita menemukan bahwa ruang dan waktu itu masuk ke langit, karena pikiran kita bisa memikirkan 2 buah titik yang berbeda. Bagaimana kita bisa memikirkan 2 buah titik yang berbeda? Melalui bayangan yang ada di bumi. Yang terikat oleh ruang dan waktu. Yang ada di papan tulis. Itu namanya hermeneutika. Yaitu pikiran menerjemahkan kenyataan. Kenyataan menerjemahkan pikiran, dsb. Lalu apa artinya 2+2? Jika titik tidak terikat ruang dan waktu maka dalam pikiran hanya ada satu titik. Titik A dan B dst itu merupakan titik yang sama yang tidak terikat ruang dan waktu. Maka kalau titik yang sama bagaimana bisa membuat garis AB? Maka kita minta tolong bayangan yang ada di bumi atau karena itu pikiran. Kenapa begitu? Itulah manusia yang tidak sempurna. Bisa memikirkan dari bayangannya. Kalau begitu 2=2 atau tidak sama dengan 2? 2 tidak sama dengan 2 karena 2 yang satu terbuat jadi jadah yang 1 dari benang. Yang 1 karton yang satu tripleks. Materialnya 2. Ada di bumi. Bisa dipukul, bisa dilihat, dituliskan. Naik sedikit, lalu dalam pikiran kita ada berapa dua?
Pola pikir kita itu mencerdaskan. Pola pikir kita bertingkat-tingkat. Bilangan lebih tinggi kedudukannya daripada geometri di dalam pikiran kita, lebih abstrak. Karena kalau geometri itu bayangan dari kenyataan. Karena kemarin kita berpikir geometri di dalam pikiran kita adalah bayangan dari kenyataan. Aritmetik bilangan juga bayangan kenyataan tetapi terbatas. Dalam bilangan kita menemukan bilangan imajiner. Bilangan imajiner itu lebih tinggi kedudukannya daripada bilangan 2, atau bilangan bulat. Bilangan rasional lebih tinggi daripada bilangan bulat. Bilangan imajiner lebih tinggi daripada rasional. Bilangan imaginer mengandung bilangan rasional.

Kedudukan objek pikir dipengaruhi oleh abstraksi dan ideal suatu benda.  Abstraksinya abstraksi dan idealnya abstraksi adalah reduksi. Kedudukan reduksi lebih tinggi dari pada abstraksi dan ideal. Reduksi dalam bahwa orang awam adalah memilih dan dipilih. Reduksi yang memilih dan dipilih memiliki perbedaan komponen. Tuhan menciptakan manusia secara filsafat adalah wadah dan isi. Semua yang terlihat itulah wadah, namun ruh, jiwa, perasaan dan yang lainnya merupkan isi. 

Komentar