Pengantar Perkuliahan Filsafat
Paradigma dari filsafat ilmu adalah konstruktivisme atau membangun.
Membangun dunia, akhirat, hidup, kepercayaan, kesehatan, membangun rumus,
membangun teori, membangun paradigma. Maka membangun yang paling bermakna
adalah membangun untuk dirinya sendiri bukan dibangunkan. Sehingga paradigma
itu membangun atau konstruk tetapi bukan dalam konteks memberi, seperti seorang
guru/dosen yang sedang mengajar bukan berarti sedang memberi ilmu, tetapi
memfasilitasi mahasiswa agar bisa membangun, khususnya membangun ilmu. Karena filsafat
adalah konstruksi jadi masing-masing mahasiswa senantiasa mencari, sehingga
nanti output yang muncul akan berbeda-beda. Membangun dikaitkan dengan
paradigma hakikat subyek belajar. Bagaimana seorang mahasiswa mampu membangun
filsafatnya.
Ilmu muncul karena diawali dengan bertanya, sehingga apabila tidak
ada pertanyaan maka tidak ada ilmu. Selama ilmu tersebut masih dipikirkan maka
hal tersebut adalah masalah dunia. Ilmu akhirat sudah tidak dipikirkan lagi,
melainkan dihayati. Dalam diri manusia itu yang paling tinggi ada spiritual di
bawah spiritual ada filsafat kemudian di bawahnya ada ilmu di bawahnya lagi ada
aturan dan di bawahnya yang paling akhir adalah fisik. Spiritual adalah yang
paling tinggi dan menjadi landasan atau bayangan untuk struktur di bawahnya.
Agar bisa memahami filsafat diperlukan membaca sampai mengendap.
Membaca dengan menjiwai, berkali-kali sampai teraktualisasi. Filsafat yang Prof
Marsigit tulis adalah filsafat metafisik yang sudah mengendap. Pikiran manusia
itu ada dua macam yaitu yang berlandasan dan tidak berlandasan. Sebagai contoh,
spiritual yang berlandaskan atas keyakinan. Semua yang berlandasan namanya
foundationalism. Yang tidak beralandasan
disebut antifoundationalism. Seperti perahu di atas Samudera. Mau ke
mana, tidak tahu arah, namanya anti foundationalism. Berdoa adalah landasan. Bertanya itu
landasan. Kalau sudah bertanya tetapi tidak dijawab berarti sudah diberi
landasan tetapi tidak dibangun.
Ada tiga pilar yang terdapat dalam filsafat yaitu ontologi,
epistimologi dan aksiologi. Ontologi itu artinya hakikat. Hakikat adalah yang
mendasari segala hal. Semua ciptaan Tuhan itu potensi. Potensi tidak hanya
menjadi baik, menjadi buruk pun juga disebut potensi asal ada perubahan. Pada
dasarnya potensi ada dua hal yaitu memilih dan dipilih/terpilih. Memilih adalah
ikhtiar, dipilih/terpilih adalah takdir. Misalnya ke depan. Itu berarti
memilih, sehingga dikatakan hidup itu pilihan. Pilihan harus berdasarkan takdir
dan kodrat.
Nama itu iconic atau dunia. Setiap yang ada itu dunia, maka dunia
itu berdunia, berstruktur, berlevel, bertingkat. Jadi, nama itu merangkup
dunia.
Ayah dan ibu kita adalah jiwa. Seorang manusia adalah anak dari
pertemuan atau interaksi dari dua jiwa (ayah dan ibu). Siapa Prof Marsigit?
Prof Marsigit adalah Pikiran. Blog yang dibuat Prof Marsigit adalah fasilitas
untuk mahasiswa agar dengan mudah dapat membaca pikiran Prof Marsigit.
Yang berada di belakang kita
adalah Epoche. Karena Epoche merupakan hal yang ada dan yang mungkin ada yang
sejenak kita atau sedang tidak kita pikirkan. Sehingga jika menghadap ke utara,
arah selatan di epoche kan. Karna jika memikirkan segala hal akan membuat
stress. Yang berada di depan kita adalah Fenomenologi (prinsip). Melihat bukan
dari bentuk fisik tetapi dari fikirannya. Sehingga segala sifat yang lain disingkirkan
atau disimpan dalam epoche.
Determinis identik dengan kuasa. Kuasa memberi stigma, kuasa
berbohong, kuasa menjatuhkan sifat itu namanya seorang determinis. Segala macam
kemungkinan itu skeptisism, tokohnya adalah Rene Descartes yang berkata bahwa aku
berpikir maka aku ada. Dengan berfilsafat akan membuat pikiran kita tidak
nyaman. Karena tidak nyaman akan muncul pertanyaan dan kemudian muncullah ilmu.
Komentar
Posting Komentar